Berbukalah dengan Kurma –

0

isni Berbukalah dengan Kurma – 2007/09/03 03:14 Jangan Berbuka Puasa
Dengan Yang Manis
Posted by Herry

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar
kalimat Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,
katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
Dari Anas bin Malik ia berkata : Adalah Rasulullah berbuka dengan
Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat
Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika
tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad
dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : Apabila berbuka salah satu kamu, maka
hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya,
maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.
Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma,
beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan yang
manis-manis ? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex
carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau
minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan
berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak
jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan
berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah
sunnah Nabi . Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka
puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula
(karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.
Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa
disunnahkan minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan
saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air
putih, bukan yang manis-manis.
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar
merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori
rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini).
Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di
bulan Ramadhan sudah berupa manisan kurma , bukan lagi kurma
segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang
berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya.
Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum
berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi
sangat mahal.
Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana
yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan
gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi
glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau
makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik,
langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks
seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.
Mari kita bicara indeks glikemik (glycemic index/GI) saja.
Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi
gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan,
makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian
tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.
Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi.
Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya
rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka
tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang
paling dihindari mereka.
Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri
dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks
glikemiknya), sehingga respon insulin dalam tubuh langsung
melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk
menimbun lemak.
Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang
diberi Allah ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata
Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air
putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi
seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena
merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau. Kenapa bukan
kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah
manisan kurma , bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya
sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.
Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu
untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh
juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka
kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.
Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru
lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut,
pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu
karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan
yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot
sedang mengecil karena puasa.
Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin
terlihat seperti buah pir , penuh lemak di daerah pinggang.
Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan
yang manis-manis adalah sunnah , maka puasa bukannya malah
menyehatkan kita. Banyak orang di bulan puasa justru menjadi
lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula.
Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya rajin puasa =
rajin berbuka dengan gula.
Ingin Kurus
Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Itung-itung bonus.
Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam
pengertian mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah
kecenderungan tubuh untuk menabung lemak karena dilaparkan .
Ketika diet memang makanan tidak masuk, tapi begitu makanan masuk,
kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari makanan justru lebih
besar.
Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam
tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan
yang memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya
rendah.
Respon insulin tubuh meningkat bila:
(1) Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi,
makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita di
Indonesia: lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah
nasi).
Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya
saja. Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup
dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya.
Atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak
hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). Lemak (sedikit!)
masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan
untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.
(2) Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang
dikonsumsi, semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya,
makan hanya makanan yang GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di
bawah.
(3) Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap
kali makan.
Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan
supaya kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama.
Setelah diet selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari
sebelum diet. Supaya kurus (baca: supaya respon insulin tidak
melonjak) justru harus makan lebih sering (4-5 kali sehari) tapi
dengan porsi setengah atau sepertiga porsi biasa, dengan
karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi.
Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur:
kalau ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari
kalori makanan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah
dengan olahraga teratur untuk membakar lemak berlebih dalam tubuh,
dan memperbesar otot. Otot membutuhkan energi, maka makin terlatih
otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak dalam tubuh kita untuk
energi.
Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau
mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih
banyak dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas
selama sehari, agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri
dirangsang pertumbuhannya dan kekencangannya dengan olahraga
teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal.
Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan
untuk mengenyangkan perut.
Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk
menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi
kecil. Makan yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau
karbohidrat sederhana seperti gula, manisan, minuman ringan
bersoda dan sebangsanya itu sudah out of the question. Kalau kita
jarang makan, atau makan tidak teratur dan sekalinya makan balas
dendam habis-habisan , ya justru respon insulin kita juga melonjak
dan membuat tubuh jadi menimbun lemak.
Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan
keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat
kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap
porsinya. Jauhilah karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun
harus makan karbohidrat sederhana karena butuh energi cepat
carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.
Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi
energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga
diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat
lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas
sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi
sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga kita mudah
lemas. Maka, ketika makan sahur, jangan makan yang banyak
mengandung gula, karena kita akan cepat lemas. Makanlah
karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita
tetap berenergi sampai waktu berbuka.
Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis,
respon insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah:
sukrosa (gula-gulaan), makanan manis-manis, manisan, minuman
ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang
mengandung banyak gula. Hindari, puasa atau tidak puasa.
Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin
rendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang,
apel, pir, dan sebagainya. Sekarang ngerti kan, kenapa para pemain
tenis dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari sering
terlihat ngemil pisang di pinggir lapangan? Karena mereka butuh
energi cepat, tapi nggak ingin badannya gembul berlemak.
Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi respon
insulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.
Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan
sehingga tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras
merah, umbi-umbian, sayuran. Ini yang paling dicari para praktisi
fitness.
Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan
membuat kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk
aktivitas satu hari penuh; respon insulin rendah membuat tubuh
kita tidak cenderung untuk menabung lemak.
Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah
gula sedikiiiiiit), atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir
telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput
untuk makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran segar, dan
air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis
sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya
(gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari.
Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya
biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat
makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi
karbohidrat-protein-lemak-air proporsional. Dan tentu tidak untuk
balas dendam karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting
untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu makan
sekenyang-kenyangnya . Belajar sabar.
Waham Umum
Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, berbukalah dengan yang
manis-manis itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas
hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka
muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang
manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan
memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat.
Yang jelas, berbukalah dengan yang manis itu disosialisasikan
oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan
suci Ramadhan.
Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang
menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan
berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di
bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali
tahu.
Semoga tidak termakan waham umum berbukalah dengan yang manis .
Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang
agama. Periksa dulu kebenarannya.
Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: Makanlah hanya
ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang. Juga, isi
sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga
sisanya biarkan kosong.
Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa
lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang, kata
Rasulullah.
Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk
daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk
memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak
dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga
lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya. (HR
Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang
bersumber dari Miqdam bin Ma di Kasib)
Semoga bermanfaat .

Sumber : http://suluk.blogsome.com/2007/08/02/
jangan-berbuka-puasa-dengan-yang-manis/

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=6788

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted