suspect Bid^Ah – 2012/02/02 21:48 Assmlkm Habib
Semoga Allah Selalu Mencurahkan Rahmat Nya kpd kita semua
1. Habib saya mau tanya masalah Bid^ah apakah merayakan Maulid
Nabi, Tahun baru Islam dan sebagainya termasuk Bid^ah?
2. Jenis Bid^ah Sperti apa yg di larang dalam Alquran?
3. Apakah bekerja dan menabung Di Bank Confensional Itu haram
habib? sebab mengandung unsur riba?
semoga jawaban dari Habib bisa menjawab keragu2an didalam hati
saya dldm menjalan kan amal Ibadah sya
wassalammlkm wr wb.
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓
munzir Re:Bid^Ah – 2012/02/03 03:32 Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari
hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
selamat datang di web para pecinta Rasul saw, kita bersaudara
dalam kemuliaan
1 dan 2. akan saya jawab setelah menjawab pertanyaan ketiga,
karena jawabannya panjang sekali dan akan saya nukilkan dari buku
saya KENALILAH AKIDAHMU EDISI 2, yg membahasa masalah ini dan
berbagai masalah tauhid yg dipertentengkan, seperrti ziarah kubur,
tahlilan, hukum maulid, dlsb, anda dapat mendownload buku tsb dg
gratis di kiri tampilan web ini, namun khusus pertanyaan anda
tentang bid;ah dan maulid akan saya nukilkan dibawah.
3. bekerja dan menabung di bank konvensional memang terlibat riba,
bagi yg bekerja bekerja di bank konvensional hendaknya ia melihat
sikon dirinya, jika ia membutuhkan kebutuhan primer, yg dg
meninggalkan pekerjaan itu akan membawa kesusahan dan dampak buruk
yg menyulitkannya, maka teruskanlah bekerja di bank tsb sambil
terus berusaha mencari pekerjaan yg halal, dg penghasilan yg
mencukupi, sementara belum mendapatkannya maka ia perbanyak doa
dan bersedekah, jika sudah mendapatkan lowongan pekerjaan ditempat
yg halal, maka segera ia pindah ke pekerjaan barunya meninggalkan
bank konvensional
demikian pula menabung, segera pindahkan tabungannya ke bank
syariah, kecuali mereka yg kesulitan dalam mengirim dan menerima
uang dari bank khususnya dari luar negeri yg tidak / belum
bekerjasama dg bank syariah yg ada di negeri kita, maka ia
dimaafkan untk masih menabung di bank konvensional sesuai
kebutuhan,
sebagaimana sayapun di majelis Rasulullah saw ini membuka rekening
bank syariah mandiri, dan bca, padahal bca adalah bank
konvensional, karena saya banyak mendapat keluhan dari saudara
kita diluar negeri yg ingin membantu perjuangan majelis kita walau
bukan dana besar, namun mereka selalu gagal mengirim uang atau
kesulitan, karena bank mereka disana belum ada hubungan dg bank
bank syariah di indonesia, maka saya masih membuka rek bca untuk
mereka termudahkan
namun menurut penelituan para pengamat keuangan negara, bank
syariah di indonesia semakin meningkat dan tumbuh pesat,
diperkirakan dalam beberapa tahun mendatang bank konvensional akan
dikalahkan oleh bank bank syariah, yg semakin banyak dan semakin
maju dan semakin banyak membuka hubungan dg bank bank diluar
negeri, semoga segera terlaksana dan kita akan menutup rek bank
konvensional berganti ke bank syariah, sebagaimana bca pun sudah
berencana membuka bank syariah, semoga segera terlaksana.
—
PERINGATAN MAULID NABI SAW (dinukil dari buku saya kenalilah
akidahmu edisi 2 yg bisa didownload dg lengkap disertai banyak
permasalahan tauhid yg banyak dipertanyakan, jika berkenan
silahkan mendowloadnya dg gratis di kiri web ini.
MAULID
ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah
tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi
sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya
secara Aqlan wa syar an, (logika dan syariah).
Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka
gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya,
mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama,
wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya,
demikian adat istiadat diseluruh dunia.
Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas
kelahiran Rasul saw.
Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
Firman Allah : (Isa berkata dari pangkuan ibunya) Salam
sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan
hari aku dibangkitkan (QS Maryam 33)
Firman Allah : Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as)
dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan
(QS Maryam 15)
Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala
shahihain hadits no.4177)
Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi
pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai
saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang
mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia
melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga
membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur
juz 6 hal 583)
Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud
(Sirah Ibn Hisyam)
Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw
saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga
pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul
Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra,
dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan
Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam.
(Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian
kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah
swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini,
sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada
kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw
menjawab : Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan
(Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian
saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg
puasa.
Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu
berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin
itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak
menjawab misalnya : oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh
saja.. , namun beliau bersabda : itu adalah hari kelahiranku ,
menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai
tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya
pada amir : bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?
, maka amir menjawab : oh itu hari kelahiran saya . Nah..
bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah
hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir
menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari
kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian
pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya
maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah
hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin
untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda
maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar
pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan
umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka
mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa
saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.
Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau
tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku,
menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada
pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu.
Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari
kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah
bangkitnya islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : Izinkan aku memujimu wahai
Rasulullah.. maka Rasul saw menjawab: silahkan..,maka Allah akan
membuat bibirmu terjaga , maka Abbas ra memuji dg syair yg
panjang, diantaranya : dan engkau (wahai nabi saw) saat hari
kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang,
dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan
cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur an) kami terus
mendalaminya (Mustadrak ala shahihain hadits no.5417)
Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam
mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : bagaimana keadaanmu? , abu
lahab menjawab : di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin
karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas
kelahiran Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam
Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi bul iman no.281, fathul baari
Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di
alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau
menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya
setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw
dengan membebaskan budaknya.
Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum
syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib,
sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan
Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan
Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya
menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui
oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.
Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu
ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : aku sudah baca syair
nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai
Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra
dan berkata : bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg
doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu
Hurairah ra berkata : betul (shahih Bukhari hadits no.3040,
Shahih Muslim hadits no.2485)
Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya
haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan
syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair
syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair
yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh
Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana
riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana
dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan
bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair
syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi
hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat
yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : Jangan
kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah
saw (Musnad Abu Ya la Juz 8 hal 337).
Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
*(AL Hafidh adalah gelar bagi pakar hadits yg telah hafal lebih
dari 100.000 hadits beserta sanad dan matannya.
hujjatul islam adalah gelar bagi pakar hadits yg telah hafal
300.000 hadits beserta hukum sanad dan matannya, dan dimasa itu
ada yg mencapai 1 juta riwayat hadits seperti imam ahmad bin
hanbal, imam abu dawud dan lainnya, namun kini tak ada lagi yg
mencapai gelar alhafidh dimuka bumi ini. dimasa itu mustahil 1
juta hadits masuk dalam mikrochip sebesar ujung jari, sebagaimana
dimasa ini kita sulit menerima secara logika ada orang hafal 1
juta riwwayat hadits.
namun sebagian ulama menggelari para hujjatul islam dg al Hafidh
saja, walaupun mereka tahu orang tsb sudah mencapai gelar
diatasnya).
1. Berkata Al imam Hujjatul Islam Ibn Hajar Al Asqalaniy
rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa
Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa
hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka
berkata : hari ini hari ditenggelamkannya Fir aun dan Allah
menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada
Allah swt, maka bersabda Rasul saw : kita lebih berhak atas Musa
as dari kalian , maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas
anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya,
dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti
sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur an, maka nikmat
apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah
swt SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG
MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA (QS Al Imran
164)
2. PendapatAl imam Hujjatul Islam Jalaluddin Assuyuthi
rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul
saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi
(Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam
Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah
ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7
tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah
bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda
syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau
saw sebagai Rahmatan lil aalamiin dan membawa Syariah utk
ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan
tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman
teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg
serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan.
bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai
perayaan maulid dengan nama : Husnulmaqshad fii amalilmaulid .
3. Pendapat Al imam Hujjatul Islam Abu Syaamah rahimahullah (Guru
imam Nawawi) :
Merupakan Bid ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah
perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw
dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara,
seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan
rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg
kelahiran Nabi saw.
4. Pendapat Imamul Qurra Alhafidh Syamsuddin Aljazriy
rahimahullah dalam kitabnya Urif bitta rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya
apa keadaanmu?, ia menjawab : di neraka, tapi aku mendapat
keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan
budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan
karena Tsuwaibah menyusuinya (saw) (shahih Bukhari). maka apabila
Abu Lahab Kafir yg Alqur an turun mengatakannya di neraka mendapat
keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka
bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran
Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha
Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya
dengan sebab anugerah Nya.
5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy
dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dg ucapan Imamul Qurra Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu
menukil hadits Abu Lahab
6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al
Halabiyah
berkata tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga,
tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam
di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai
macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah
terhadap mereka keberkahan yg sangat besar .
7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ketahuilah salah satu
bid ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi
saw
8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yg terkenal al aruus juga beliau
berkata tentang pembacaan maulid, Sesungguhnya membawa
keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud
dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya .
9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al
maktab al islami berkata: Maka Allah akan menurukan rahmat Nya
kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar
.
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin
Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
dg karangan maulidnya yg bernama Attanwir fi maulid basyir an
nadzir
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah
Aljuzri
dg maulidnya urfu at ta rif bi maulid assyarif
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : maulid ibn katsir
13. Imam Al Hafidh Al Iraqy
dg maulidnya maurid al hana fi maulid assana
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
telah mengarang beberapa maulid : Jaami al astar fi maulid nabi
al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra iq fi maulid khair al khalaiq,
Maurud asshadi fi maulid al hadi.
15. Imam assyakhawiy
dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As
syaibaniy yg terkenal dg ibn diba
dg maulidnya addiba i
18. Imam ibn hajar al haitsami
dg maulidnya itmam anni mah alal alam bi maulid syayidi waladu
adam
19. Imam Ibrahim Baajuri
mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala
maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari
21. Al Allamah al Muhaddits Ja far bin Hasan Al barzanji
dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji
23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
dg maulid Al yaman wal is ad bi maulid khair al ibad
24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
dg maulid jawahir an nadmu al badi fi maulid as syafi
25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
dg maulid al maulid mustofa adnaani
26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi
27. Syihabuddin Al Halwani
dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
dg maulid Al Kaukab al azhar alal iqdu al jauhar fi maulid nadi
al azhar
29. Asyeikh Ali Attanthowiy
dg maulid nur as shofa fi maulid al mustofa
30. As syeikh Muhammad Al maghribi
dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan
melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan
Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh
kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan
memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas
meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.
Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid
Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut
kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat
atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini
lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw
adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa ad bin Mu adz
ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : Berdirilah
untuk tuan kalian (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim
hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka b
bin Malik ra.
Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama,
sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa
berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk
kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan
yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari
bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam
Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka
apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya
Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg
melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur
Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)
Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam
dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua
perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan
maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan
maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah
masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir,
semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri
penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri
untuk memuliakan beliau saw.
Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa
beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa
berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi
saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan
kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap
kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.
Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy
rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia
berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya
dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw,
lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk
Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan
didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu
sebagai panutan,
dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid ah
hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan
hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg
terncantum pd Bab Bid ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan
bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu
adalah salah satu Bid ah hasanah,
Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad
ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah
dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi
mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)
Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan
muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus
mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam
pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah
diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan
mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah
kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan
Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas
merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal
semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa
syar an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini
merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah
bahwa Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib , semua yg
menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.
contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat
dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah,
namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita
tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka
membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai
untuk melaksanakan shalat yg wajib .
contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong
baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan
membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi
kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat
kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena
diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.
Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan
Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila
dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak
pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah
beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan
Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena
menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang
Nabi saw serta silaturahmi.
Sebagaimana penulisan Alqur an yg merupakan hal yg tak perlu
dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para
sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan
Alqur an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para
sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur an dari ummat,
walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur an telah dijaga oleh
Allah.
Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa
urrasyidin, sahabat radhiyallahu anhum, Imam dan Muhadditsin, para
ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya
sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk
menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan
kejernihan, amiin.
Walillahittaufiq
BID AH
1. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid ah hasanah selama hal
itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw
: Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka
baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat
hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang
yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya
(Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada
Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy,
Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna
Bid ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?,
maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru
yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah
indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw
tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi
ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman,
modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya
pastilah diperlukan hal hal yg baru demi menjaga muslimin lebih
terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama
ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna
ayat : ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, hari ini
Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula
kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian ,
maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat
lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik
sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah
dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,
bila yg dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat
itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain
turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini
bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki
orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian
turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram,
maka membuat kebiasaan baru yg baik boleh boleh saja.
namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg
bertentangan dg syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan
apa apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah
makna hadits beliau saw : Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg
berupa keburukan…dst , inilah yg disebut Bid ah Dhalalah.
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan
berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa
kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk
memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dg hal yg ada dizaman
kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan
agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid ah dhalalah).
Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus
untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg
dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas
tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti
dengan perbuatan bid ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi in.
2. Siapakah yg pertama memulai Bid ah hasanah setelah wafatnya
Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul
yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur an dan Ahli
Alqur an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar
Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : Sungguh Umar (ra) telah
datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan
ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur an,
lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan
dan menulis Alqur an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu
hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata
padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan
kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan
dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar, dan engkau
(zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak
pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang
ikutilah dan kumpulkanlah Alqur an dan tulislah Alqur an..!
berkata Zeyd : Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan
sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu
padaku untuk mengumpulkan Alqur an, bagaimana kalian berdua
berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw?? , maka
Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga
iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju
dan kini aku sependapat dg mereka berdua dan aku mulai
mengumpulkan Alqur an . (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar
shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : sampai Allah menjernihkan
dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar , hatinya
jernih menerima hal yg baru (bid ah hasanah) yaitu mengumpulkan
Alqur an, karena sebelumnya alqur an belum dikumpulkan menjadi
satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis
di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid ah hasanah,
justru mereka berdualah yg memulainya.
Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan
(menghilangkan) Bid ah hasanah mengenai semua bid ah adalah
kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat
subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg
membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami
berkata : Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk
perpisahan , maka beri wasiatlah kami.. maka rasul saw bersabda :
Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan
taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika,
sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat
banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada
sunnahku dan sunnah khulafa urrasyidin yg mereka itu pembawa
petunjuk, gigitlah kuat kuat dg geraham kalian (suatu kiasan untuk
kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yg baru, sungguh
semua yg Bid;ah itu adalah kesesatan . (Mustadrak Alasshahihain
hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti
sunnah beliau dan sunnah khulafa urrasyidin, dan sunnah beliau saw
telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar
syariah, dan sunnah khulafa urrasyidin adalah anda lihat sendiri
bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui
bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak
dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur an, lalu pula
selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dg
persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini,
khulafa urrasyidin melakukan bid ah hasanah, Abubakar shiddiq ra
dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur an, lalu
kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya
memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : Inilah
sebaik baik Bid ah! (Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula
selesai penulisan Alqur an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra
hingga Alqur an kini dikenal dg nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin
Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah
dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa
Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula
dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn
Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits
no.873).
Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti
larangan Bid ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa
urrasyidin ini tak faham makna Bid ah?
3. Bid ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid ah hasanah inilah yg
termasuk pada golongan Bid ah dhalalah, dan Bid ah dhalalah ini
banyak jenisnya, seperti penafian sunnah, penolakan ucapan
sahabat, penolakan pendapat Khulafa urrasyidin, nah diantaranya
adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar
syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan
dilakukan oleh Khulafa urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas
memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah
pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa urrasyidin, bagaimana Sunnah
Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid ah hasanah, bagaimana
sunnah Khulafa urrasyidin?, mereka melakukan Bid ah hasanah, maka
penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid ah dhalalah, hal yg
telah diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid ah hasanah, maka kita
telah menafikan dan membid ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits
yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab
tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw
untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal
itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu
anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak
pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula
Khulafa urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi in
mulai menulis hadits Rasul saw.
Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain
sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua
adalah perbuatan Bid ah namun Bid ah Hasanah.
Demikian pula ucapan Radhiyallahu anhu atas sahabat, tidak
pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat,
walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu
diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw
memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun
karena kecintaan para Tabi in pada Sahabat, maka mereka
menambahinya dengan ucapan tersebut.
Dan ini merupakan Bid ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu
muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program
Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua
adalah Bid ah hasanah.
Bid ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan
muslimin, karena dengan adanya Bid ah hasanah di atas maka semakin
mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca
Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang
memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila
Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang
terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?
Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan
para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul
beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang
akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan
riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam.
Namun dengan adanya Bid ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal
Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid ah Hasanah ini pula
kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah
Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah
membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dg jelas bahwa hal hal
baru yg berupa kebaikan (Bid ah hasanah), mesti dimunculkan kelak,
dan beliau saw telah melarang hal hal baru yg berupa keburukan
(Bid ah dhalalah).
Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah
ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya
adalah Mutiara Alqur an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata
mengenai Bid ah hasanah : sampai Allah menjernihkan dadaku dan
aku setuju dan kini aku sependapat dg Umar .
Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra : ..bagaimana kalian berdua
(Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh
Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu
adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd)
sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
sependapat dg mereka berdua .
Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg
jernih menerima hal hal baru yg baik adalah hati yg sehati dg
Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin
haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah
swt,
Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal
ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak
mau sependapat dg mereka, belum setuju dg pendapat mereka, masih
menolak bid ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa
akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan
perbuatan khulafa urrasyidin, gigit dg geraham yg maksudnya
berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati
dan sependapat dg Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra,
Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat..
amiin
Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii
rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid ah terbagi dua, yaitu bid ah
mahmudah (terpuji) dan bid ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan
dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah
adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra
mengenai shalat tarawih : inilah sebaik baik bid ah . (Tafsir
Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam
Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi :
seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid ah
adalah dhalalah (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid
atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg
Alqur an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu
anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits
lainnya : Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam,
maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat
hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang
yg mengikutinya (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini
merupakan inti penjelasan mengenai bid ah yg baik dan bid ah yg
sesat . (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf
Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
Penjelasan mengenai hadits : Barangsiapa membuat buat hal baru
yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg
mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya , hadits ini
merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan
ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini
terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : semua yg baru
adalah Bid ah, dan semua yg Bid ah adalah sesat , sungguh yg
dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid ah yg tercela .
(Syarh Annawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid ah menjadi 5,
yaitu Bid ah yg wajib, Bid ah yg mandub, bid ah yg mubah, bid ah
yg makruh dan bid ah yg haram.
Bid ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada
ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid ah yg mandub
(mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila
ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun
majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam
macam dari jenis makanan, dan Bid ah makruh dan haram sudah jelas
diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari
makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih
bahwa inilah sebaik2 bid ah . (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim
Juz 6 hal 154-155)
Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
rahimahullah
Mengenai hadits Bid ah Dhalalah ini bermakna Aammun makhsush ,
(sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah :
yg Menghancurkan segala sesuatu (QS Al Ahqaf 25) dan
kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : Sungguh
telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin
dan manusia keseluruhannya QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya
bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna
keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen)
atau hadits : aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini (dan
kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw)
(Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan
pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati
darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau
seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh
atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya
menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa
memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
Walillahittaufiq
Telah beredar buku saya mengenai Bid ah, tawassul, istighatsah,
maulid, ziarah kubur, tabarruk dll, buku itu saya beri judul
Kenalilah Akidahmu edisi 2 . Dapat dipesan di kios nabawi, lihat
di kiri web, atau mendownloadnya secara gratis di kiri web.
—
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a^lam
Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah
Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓
sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=27292