iway Isbal dan Nyanyian serta makna tasawuf - 2005/11/10 05:18
Assalaamu?alaikum wr. wb.
?Taqobbalallahu minna wa minkum?
Walau tangan tak berjabat, tapi tidak mengurangi rasa hormat saya
dengan habieb.semoga Allah selalu menjaga dan memberikan kesehatan
dan kekuatan kepada Habieb dalam menjalankan dakwahnya.
bieb. ane mau tanya tentang isbal. apakah isbal yang dikatakan
oleh Nabi adalah untuk shalat atau untuk kehidupan sehari-hari?
dan juga nyayian? apakah haram hukumnya bila disertakan dengan
alat musik ? saya suka sekali dengan marawis bieb apakah ini tanda
yang dikatakan oleh Nabi. bahwa akan ada umatku yang menghalalkan
musik? sehingga orang itu akan masuk neraka (kalau tidak salah
hadist tersebut isinya , mohonn koreksi bila salah) bagaimana
dengan yang saya sebutkan tadi bieb. apakah saya termasuk orang
yang merugi karena suka musik.? dan juga musik yang dimainkan
dengan rebbana itu identik dengan sufi apakah benar sufi itu
termasuk yang ahli bid'ah sebagaimana ilmu tasafuw yang dilakukan
oleh para sufi.
Mohon pencerahannya dan mohon do'a nya habieb. semoga orang tua
saya diberikan kekuatan dan kesehatan karena sekarang kondisinya
sedang tidak sehat. Amiin
syukron katsiron
| | ==========
munzir Re:Isbal dan Nyanyian serta makna tasawuf - 2005/11/21 12:36
Aalaikum salam warahmatullah wabarakaatuh
afwan atas keterlambatan karena dalam dua minggu ini komputer ana
bermasalah, afwan ana ringkaskan saja jawaban ini mengingat
banyaknya pertanyaan yg belum saya jawab di website ini dan email
Isbal (tidak membuat pakaian menjela/memanjang dibawah mata kaki)
adalah sunnah Rasul saw dalam sholat dan diluar shalat,
Rasul saw bersabda : "Barangsiapa yg menyeret nyeret pakaiannya
(menjela pakaiannya/jubahnya krn sombong maka Allah tidak akan
melihatnya dihari kiamat (murka)" lalu berkata Abubakar shiddiq ra
: Wahai Rasulullah..., pakaianku menjela.., maka berkata Rasul saw
: "Sungguh kau memperbuat itu bukan karena sombong" (Shahih
Bukhari Bab Manaqib).
berkata AL Hafidh Imam Ibn Hajar mengenai syarah hadits ini :
"kesaksian Nabi saw menafikan makruh perbuatan itu pada ABubakar
ra" (Fathul Baari bisyarh shahih Bukhari Bab Manaqib).
jelaslah sudah bahwa perbuatan itu tidak makruh apalagi haram,
kecuali jika diperbuat karena sombong,
dimasa itu bisa dibedakan antara orang kaya dg orang miskin adalah
dilihat dari bajunya, baju para buruh dan fuqara adah pendek
hingga bawah lutut diatas matakaki, karena mereka pekerja, tak mau
pakaiannya terkena debu saat bekerja,
dan para orang kaya dan bangsawan memanjangkan jubahnya menjela
ketanah, karena mereka selalu berjalan diatas permadani dan
kereta, jarang menginjak tanah,
maka jadilah semacam hal yg bergengsi, memakai pakaian panjang
demi memamerkan kekayaannya, dan itu tak terjadi lagi masa kini,
orang kaya dan miskin sama saja, tak bisa dibedakan dengan pakaian
yg menjela.
jelas dibuktikan dengan riwayat shahih Bukhari diatas, bahwa
terang2an abubakar shiddiq ra berpakaian spt itu tanpa sengaja,
namun Rasul saw menjawab : "Kau berbuat itu bukan karena sombong"
berarti yg dilarang adalah jika karena sombong.
musik yg diharamkan adalah jelas, yaitu alat musik petik, dan
mizmar (seruling yg bentuknya menggembung ditenganya), namun
selain itu adalah haram hukumnya selama hal itu melantunkan hal2
yg membuat kita lupa dari Allah.
namun marawis, hadrah, rabana dan alat musik yg digunakan untuk
membesarkan syiar Allah yg dilakukan oleh Kaum Anshor ketika
menyambut kedatangan Rasul saw di madinah, maka hal ini jelas
jelas berlandaskan hujjah shahih bahwa Rasaul saw
memperbolehkannya, dan bagi mereka yg mengharamkannya, bolehlah
anda tanyakan pada mereka manakah landasan Dalil nya, karena Rasul
saw bersabda : "Sungguh yg halal telah dijelaskan, dan yg haram
telah dijelaskan,...". (HR Bukhari Muslim)
wallahu a'lam
semoga kondisi orang tua anda sehat wal afiat.
Rabbana Yashfiihima. wa yaghfirhuma, wa yuraqqiihima ilaa
darajatisshiddiqiin, amiin
wassalam
| | ==========
sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=119
forum.majelisrasulullah.org Isbal dan Nyanyian serta makna tasawuf arsip 2005
Subscribe
0 Comments
Oldest