iqbalAhmed membedakan phm kita – 2008/07/30 07:29 Assalamualikum wr.wb
habib, begini skrng bnyk bacaan buku islami yg tersebar d toko
buku, gmn cara ngebedakan buku yg berisi phm kita dg yg bkn?
lalu habib ane mau msk kmps yg katana dsana bnyk terdpt phm selain
kita, gmn cara spy tdk terdoktrin?
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓
adminIII Re:membedakan phm kita – 2008/08/01 01:46 Alaikumsalam
warahmatullah wabarakatuh
Saudaraku yang kumuliakan, berikut kutipan jawaban Habibana yang
sudah ada di forum :
alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Kebahagiaan dan kesejukan hati semoga selalu menaungi hari hari
anda
saudariku yg kumuliakan,
ketika kita melihat sebuah buku syariah, maka sebelum membacanya
pastikan dulu bahwa buku itu bukan karangan musuh islam, bukan
karangan orang yg tak mengerti islam, bukan karangan orang yg
mengada ada dan lebih banyak membawa pendapatnya sendiri dalam
menafsirkan alqur^an dan hadits, nah.. setelah itu barulah kita
membaca bukunya,
untuk kita di Indonesia adalah bermadzhab syafii, makalayaknya
kita mendalami madzhab syafii, dan mengamalkan madzhab syafii,
agar kita tak bertentangan dengan orang banyak disekitar kita,
mengenai mereka yg mempelajari dan mengamalkan madzhab lain di
wilayah madzhab syafii, baiknya anda tak usah berdebat dengannya,
karena perbuatannya itu menunjukkan bahwa ia adalah orang yg tak
mengerti syariah, karena jika ia mengerti syariah maka ia akan
mengikuti madzhab setempat, dimanapun ia berada.
Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita
cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,
Wallahu a^lam
berikut linknya:
Itemid=&func=view&catid=7&id=15437&lang=id#15437
Mengenai perbedaan pemahaman di lingkungan kampus, saya sarankan
anda mencari seorang guru sebagai tempat bertanya dan menghadiri
majelis2 ilmu dan majelis2 dzikir, berikut saya cantumkan
pentingnya sanad dalam menuntut ilmu, semoga dapat menjawab
pertanyaan saudara.
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh
Cahaya keindahan Nya swt semoga selalu menerangi jiwa dan hari
hari anda,
saudaraku yg kumuliakan,
terimakasih atas doanya,
1. Berkata Imam Syafii : “Tiada ilmu tanpa sanad”,
berkata pula AL Hafidh Imam Attsauri : “Sanad adalah senjata orang
mukmin, maka bila kau tak memiliki senjata, maka dengan apa kau
membela diri?”.
berkata Imam Ibnul Mubarak rahimahullah : penuntut ilmu tanpa
sanad adalah bagaikan orang yg ingin naik ke atap rumah tanpa
tangga”
berkata pula Imam Syafii : “penuntut ilmu tanpa sanad adalah
bagaikan pencari kayu bakar yg mencari kau bakar ditengah malam,
yg ia membawa tali pengikatnya adalah ular berbisa dan ia tak
tahu” (Faidhul Qadir Juz 4 hal 442)
dan masih banyak lagi, dan merupakan hal yg baku diantara para
Muhadditsin bahwa mereka tak mengakui suatu ajaran/tuntunan ibadah
dari seseorang ustaz/guru/ulama kecuali orang itu mempunyai
sanadnya.
namun saudaraku, hal semacam ini tidak perlu dirisaukan untuk
kita, karena ahlussunnah waljamaah telah mempunyai sanad dalam
segala perbuatannya, ziarah, tawassul, istighatsah, tabarruk,
maulid, tahlilan dlsb ini ada sanadnya, bersambung kepada Rasul
saw, atau pada sahabat, atau pada para Muhadditsin, oleh sebab itu
tak perlu risau.
semua guru guru/ustaz / ulama / kyai yg mengajarkan hal yg sama
secara umum, dalam fiqihnya yg bermadzhab syafii, dalam masalah
furu^iyah dll walaupun mereka mungkin ada yg tak mempunya sanad,
namun apa yg mereka ajarkan itu sama, dan itu sudah cukup, karena
perbuatan2 itu berlandaskan sanad.
yg mesti dirisaukan adalah ajaran baru semacam wahabii, syiah dan
ajaran aneh lainnya ini, mereka tak punya sanad, hanya fatwa fatwa
akal dan logika yg menyesatkan ummat,
maka disinilah senjata kita, maka oleh sebab itu saya selalu
membahas dan mensyiarkan masalah sanad ini, agar ummat tidak
tertipu kepada para penipu syariah itu, kembalilah pada bimbingan
yg mempunyai sanad, jangan menuruti mereka yg sanadnya putus,
karena sanad pada Buku tak diakui dalam syariah.
kita ahlussunnah waljamaah mempunyai sanad dan guru guru yg jelas
sampai pada Nabi Muhammad saw dan para sahabat dan para
Muhadditsin.
2. Buku menjadi rujukan, namun kita tak berguru pada buku,
kita membaca dibuku, muncul masalah aneh yg diluar pengetahuan
kita maka kita bertanya pada guru yg mempunyai sanad, guru yg
berfatwa bukan dari fatwanya, tapi dari gurunya lagi, demikian
hingga kepada ujung sanad,
misalnya begini, saya membaca shahih Bukhari, saya pun belajar
shahih Bukhari pada guru saya, lalu saya menemukan masalah yg aneh
yg saya temui di Shahih Bukhari, maka saya tidak merujuk pada
pendapat sendiri, saya bertanya pada guru saya, karena guru saya
mempunyai sanad hingga Imam Bukhari, dan beliau lebih luas
pemahamannya dari saya tentunya tentang pernak pernik dalam shahih
Bukhari,
mengapa saya bertanya pada guru yg mempunyai sanad kepada Imam
Bukhari?,
bila anda bertanya, siapakah yg paling tahu mengenai penjelasan
shahih Bukhari?, tantunya yg paling tahu adalah murid murid Imam
Bukhari, yg langsung mendapatkan pengajaran buku itu dari Imam
Bukhari,
nah.. lalu pada generasi selanjutnya, siapa yg paling tahu tentang
shahih Bukhari?, tentunya orang orang yg berguru langsung kepada
murid Imam Bukhari,
demikian selanjutnya sanad itu hingga kini, tak ada orang lebih
tahu makna shahih Bukhari selain orang yg mempunyai sanad pada
Imam Bukhari,karena ialah pewaris makna tersebut dari guru
gurunya.
demikian pula sanad Imam syafii, demikian sanad Imam nawawi,
demikian sanad parsa Muhadditsin lainnya, bahkan kita memiliki
sanad hingga Rasulullah saw.
tentunya boleh saja membaca kitab dan buku, namun kita mempunyai
sanad guru, bila terbentur dalam masalah, maka segera kita rujuk
pada guru yg mempunyai sanad pada penulis buku tersebut, maka kita
tidak tersesat, walaupun pemahaman kita terhadap syariah terbatas,
namun kita tak akan tersesat karena dibimbing oleh guru.
3. tentunya kita merujuk pada guru, guru yg mempunyai banyak
sanad, guru yg shalih dan mengamalkan ilmunya, ikutilah mereka,
karena mengikuti mereka kita tak akan tersesat.
4. terimakasih atas sarannya saudaraku, Insya Allah berkat doa
anda saya bisa melaksanakan umrah.
demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
wallahu a^lam
ralat : Ucapan Imam Syafii tersebut adalah pada Juz 1 hal 433,
bukan Juz 4
berikut linknya:
Itemid=&func=view&catid=9&id=5770&lang=id#5770
Wassalam,
AdminIII
↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓
sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=16988