Perayaan Maulid dalam sorotan

0

iqbalnuriman Perayaan Maulid dalam sorotan – 2007/07/12 05:10 Asalamualaikum
Wr Wb

Semoga Habibana dalam lindungan Allah SWT

Bib saya kirimkan artikel lagi dari web yang sama sebelumnya,
mungkin sebagian sudah pernah dijelaskan oleh Habib didalam
artikel Bid^ah.

inilah artikel tersebut :

Perayaan Maulid Nabi dalam Sorotan
Hari itu istri-istri Nabi Shallallahu ^alaihi wasallam
kedatangan tiga shahabat menanyakan perihal ibadah Rasulullah
Shallallahu ^Alaihi Wasallam. Sesampainya mereka disana
diceritakanlah kepada mereka seperti apa ibadah Rasulullah
Shallallahu ^Alaihi Wasallam, selesai mereka menyimak keterangan
para pendamping Rasulullah Shallallahu ^Alaihi Wasallam
seolah-olah mereka masih menganggapnya belum seberapa. Maka
berkatalah salah seorang dari mereka; “Saya akan shalat malam
selama-lamanya”. Kata yang kedua; “Kalau saya, saya akan
berpuasa dan tidak berbuka”. Yang terakhir menyela; “Dan saya,
saya akan menjauhi wanita-wanita dan tidak akan menikah”.

Tidak lama, sampailah kepada beliau laporan ucapan-ucapan ketiga
shahabatnya tadi. Maka beliau pun berkata lantang dihadapan
mereka; “Kenapa masih ada orang-orang yang mengatakan ini dan
itu, sungguh demi Allah, ketahuilah; saya adalah orang yang
paling bertakwa dan paling takut kepada Allah dari pada kalian,
tapi saya shalat malam dan saya juga tidur, saya puasa dan saya
juga berbuka dan saya menikahi wanita-wanita…barangsiapa yang
tidak suka dengan ajaranku maka dia bukan dari golonganku”.

Demikianlah makna hadist Anas radiyallahu ^anhu yang
diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dalam Shahihnya. Hadits ini
seolah-olah terus menegur dan mengingatkan kita, bahwa ada satu
hal dari sunnah nabi Shallallahu ^Alaihi Wasallam yang sering
kali luput dari pengamatan yaitu yang dinamakan para ulama
dengan sunnah tarkiyyah. Sunnah Tarkiyyah adalah semua yang
tidak pernah dikerjakan oleh Rasulllah Shallallahu ^Alaihi
Wasallam semasa hidupnya, maka Sunnah bagi kita untuk
meninggalkannya.

Karena sunnah ada dua; sunnah fi^liyyah dan sunnah tarkiyyah.
Yang pertama; setiap yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu
^Alaihi Wasallam dimasa hidupnya adalah sunnah bagi kita untuk
melakukannya. Dan yang kedua; setiap yang tidak dilakukan oleh
Rasulullah Shallallahu ^Alaihi Wasallam dimasa hidupnya adalah
sunnah bagi kita untuk tidak melakukannya.

Diantara contoh sunnah tarkiyah adalah hadist Anas radiyallahu
^anhu diatas. Karena itu Al Hafidz Ibnu Rajab berkata; “…adapun
hal-hal yang telah disepakati oleh Salaf untuk ditinggalkan,
maka tidak boleh mengamalkannya, karena mereka meninggalkannya
atas dasar ilmu bahwa hal tersebut tidak disyariatkan”.

Di hari-hari ini, di bulan Rabi^ul Awal, umumnya kaum muslimin
merayakan perayaan ritual tahunan yang biasa dikenal dengan
Maulid Nabi Shallallahu ^Alaihi Wasallam atau Mauludan (di Jogja
dikenal dengan perayaan Sekaten, red). Tidak sedikit harta yang
dinafkahkan pada perayaan ini, sampai-sampai dibeberapa tempat
dana yang dihabiskan untuk mensukseskannya terkadang mencapai
puluhan juta. Tapi harus kita akui bersama, hanya sedikit –dari
sekian besar dana yang dibelanjakan untuk acara ini- yang
manfaatnya kembali kepada kaum muslimin apabila ditinjau dari
perbaikan akhlak dan sikap beragama mereka, kalau tidak boleh
mengatakan; “Tidak ada manfaatnya”. Bukti akan hal ini terlalu
banyak untuk disebutkan. Dan setiap kita cukup sebagai saksi
dari gagalnya seremonial tahunan ini dalam mengangkat moral
ummat dan mengembalikan kesadaran beragama mereka.

Apa yang salah dari perayaan maulid Nabi, bukankah acara
tersebut merupakan ungkapan kegembiraan kita dengan Nabi kita
sendiri?! Dengannya kita bisa melakukan napak tilas sejarah
kehidupan beliau Shallallahu ^Alaihi Wasallam?! Mempelajari
sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ^Alaihi Wasallam?! Semua
ini adalah niatan baik yang melatar belakangi perayaan tersebut,
tapi seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas^ud radiyallahu ^anhu
kepada orang-orang yang didapatinya di masjid Kufah, ketika itu
mereka terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok majlis dzikir,
majlis memuji dan mengingat Allah Ta^ala, kata Ibnu Mas^ud
radiyallahu ^anhu , “Berapa banyak orang yang menginginkan
kebaikan tapi tidak mendapatkannya”. Hal ini karena mereka
melakukan suatu yang tidak pernah dikerjakan Nabi Shallallahu
^Alaihi Wasallam semasa hidupnya, ini juga yang hampir dilakukan
oleh tiga orang shahabat nabi dalam kisah di atas.

Ungkapan kegembiraan yang tepat, yakni napak tilas kehidupan
Rasulullah Shallallahu ^Alaihi Wasallam dan mempelajari
sunnah-sunnah beliau caranya dengan menerapkan ajarannya dalam
kehidupan kita, dengan belajar ilmu agama diantaranya sirah
Rasulullah shallallahu ^alaihi wasallam, bukan dengan cara-cara
yang baru yang hanya dikenal setelah berlalunya tiga generasi
yang mulia, shahabat, tabi^in dan tabi^it tabi^in.

Adapun perayaan Maulid ini tidak dikenal di masa Rasulullah
Shallallahu ^Alaihi Wasallam, generasi pertama ummat ini dan
tidak dikenal dalam mazhab yang empat, Hanafiah, Malikiyah,
Syafi^iyah dan Hambaliyah. Lantas siapa orang yang menanggung
dosa pertama dari bid^ah maulid ini? Orang yang pertama kali
mengadakan perayaan ini adalah kelompok Fatimiyyun disebut juga
Ubaidiyyun ajaran mereka adalah kebatinan. Adapun perkataan
bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan tersebut adalah
seorang raja yang adil yang alim yaitu Raja Mudhofir, penguasa
Ibril adalah pernyataan yang salah. Abu Syamah menjelaskan bahwa
Raja Al Mudhofir (hanya) mengikuti jejak Asy-Syaikh Umar bin
Muhammad Al Mulaa tokoh kebatinan dan dialah orang yang pertama
kali mengadakan perayaan tersebut.

Kelompok yang membolehkan Maulid Nabi beralasan;
1- Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan
kegembiraan dengan diutusnya Nabi Shallallahu ^Alaihi Wasallam
dan hal ini termasuk perkara yang diharuskan karena Al-Qur’an
memerintahkannya sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah
Ta’ala :
“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah
dengan itu mereka bergembira” (Qs. Yunus; 58).
Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan
rahmat-Nya, sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ^Alaihi Wasallam
adalah rahmat Allah yang paling agung, Allah Ta’ala berfirman :
“Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh alam” (Qs. Al Anbiya^; 107)

Sanggahannya :
Bergembira dengan beliau Shallallahu ^Alaihi Wasallam,
kelahirannya, syariat-syariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan
penerapannya di setiap situasi, waktu dan tempat, bukan pada
malam-malam tertentu.
Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk melegalkan
acara Maulid nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir
seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan
Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak seorangpun dari mereka yang
menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat pada ayat
tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ^Alaihi Wasallam, namun
yang dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang
diterangkan dalam ayat sebelumnya.
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran
dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang
yang beriman”. (Qs. Yunus; 57).

Ibnu Katsir menerangkan; “Firman Allah Ta’ala “rahmat dan
petunjuk bagi orang-orang yang beriman” maksudnya dengan
Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa didapatkan dari Allah
Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman
dengan Al-Qur^an dan membenarkannya serta meyakini kandungannya.
Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala;
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Al Israa^; 82).

2- Syubhat kedua, Rasulullah Shallallahu ^Alaihi Wasallam
sendiri mengagungkan hari kelahirannya, beliau mengekspresikan
hal itu dengan berpuasa, seperti diriwayatkan dari Abu
Qatadahradiyallahu ^anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ^Alaihi
Wasallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab;
“Pada hari itu aku dilahirkan, aku diutus atau diwahyukan
kepadaku”.

Sanggahannya :
Hadist Abu Qatadah radiyallahu ^anha di atas adalah hadits yang
shahih, tapi menjadikannya sebagai dalil bahwa Rasulullah
Shallallahu ^Alaihi Wasallam merayakan sendiri kelahirannya, ini
yang salah. Kesimpulannya dalilnya shahih, pendalilannya salah.
Dikarenakan beberapa alasan;
1- Diriwayatkan dalam hadits yang lain, bahwa puasa beliau
Shallallahu ^Alaihi Wasallam di hari Senin, karena amalan di
hari itu diperlihatkan kepada Allah Ta^ala.
2- Kalau ucapan mereka benar, kenapa tidak ada seorang pun dari
shahabat Rasulullah Shallallahu ^Alaihi Wasallam yang memahami
sabda diatas dengan pemahaman demikian. Kemudian datang
orang-orang belakangan yang memahami puasa beliau di hari Senin
sebagai ekspresi pengagungan terhadap hari kelahirannya, lalu
dari situ mereka mengadakan acara yang dinamakan Maulid!! Apakah
mereka lebih mengetahui kebenaran dari para shahabat yang
mulia?! Dan kebenaran itu luput dari mereka dan hanya diketahui
oleh orang yang datang belakangan?! Sungguh ajaib logika
orang-orang pintar akhir zaman, hasbunallahu wani^mal wakiil.

3- Syubhat ketiga, perkataan mereka : Perayaan Maulid memang
bid^ah, tapi bid^ah hasanah (baik).”

Sanggahannya :
Cukup dengan sabda Nabi Shallallahu ^Alaihi Wasallam, “Setiap
bid^ah adalah sesat”. Dan seperti itu pulalah yang disampaikan
Ibnu Umar radiyallahu ^anhuma kepada orang-orang yang memiliki
anggapan salah ini, kata beliau; “Setiap bid^ah adalah sesat
walaupun orang menganggapnya baik”.

Al Imam Malik rahimahullah berkata; “Barangsiapa yang membuat
bid^ah di dalam Islam yang dianggapnya baik, ia telah menuduh
Muhammad Shallallahu ^Alaihi Wasallam khianat dalam menyampaikan
risalah. Karena Allah Ta^ala berfirman;
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu
jadi agama bagimu”. (Qs. Al Maidah; 3), maka segala sesuatu yang
bukan agama dihari itu, bukan pula agama di hari ini.

Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran, kenapa
Rasululah SAW dan para shahabatnya, tidak pernah
menganjurkannya?! Apakah mereka tidak tahu?! Kemungkinan yang
lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua kemungkinan
ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang mereka perbuat
kepada nabinya dengan alasan cinta kepadanya?!

Dikirim via email oleh Al Akh Fajar Wuryanto, Jakarta

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

munzir Re:Perayaan Maulid dalam sorotan – 2007/07/13 07:33 Alaikumsalam
warahmatullah wabaraktuh,

Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari
anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
penjelasan mengenai maulid telah saya jelaskan dg gamblang di
artikel maulid di web ini, juga ada artikel Bid ah, dan di Buku yg
saya terbitkan : Kenalilah akidahmu .

Sebagaimana ketika seorang Imam di masjid Quba selalu
menggandengkan surat Al Ikhlas dengan fatihah, ia selalu membaca
surat Al ikhlas setelah alfatihah, baru ia membaca surat lain,
maka orang2 mengadukannya pada Nabi saw, dan Nabi saw bertanya
sebabnya maka Imam itu menjawab tanpa dalil hadits atau Alqur an,
ia menjawab dg singkat : Inniy uhibbuhaa (aku mencintai surat Al
Ikhlas..) maka Nabi saw menjawab : Hubbuka Iyyaha adkhalakal
Jannah (cintamu pada surat Al Ikhlas membuatmu masuk sorga)
(Shahih Bukhari).

Jelaslah bahwa Imam Masjid Quba itu menambah nambah bacaan shalat,
karena tak pernah ada sunnah nabi saw memerintahkan al ikhlas
dibaca setiap habis fatihah sebelum surat lainnya, namun orang ini
melakukannnya dan membuat buatnya sendiri atas dasar cintanya pada
surat Al Ikhlas..

Jelaslah sudah bahwa hal yg baik itu disambut baik oleh Rasul saw.

Mengenai mubazir dlsb itu hanya mereka saja mengada ada, zaman
Nabi saw masjid itu dibuat dari tanah, lalu dizaman Khalifah
Utsman bin Affan ra menambahinya dengan ukiran ukiran dan tiang
tiang, tembok batu dan atap,

Masa kini boleh saja orang memakai masjid dg karpet termahal,
marmar, dan ukiran, hal itu lumrah saja,

Lalu secara umum setiap orang boleh saja membangun rumahnya dg Ac
disetiap kamarnya, marmar, ukiran jepara, pintu seharga 80 juta,
sofa harga belasan juta, toiletnya puluhan juta, kenapa wahabi
wahabi itu tidak protes?, tapi masalah maulid mereka protes..?

Anda lihat bagaimana perbuatan para Muhaddits kita terdahulu :
Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh dan para Imam imam
mengirim hadiah pd Rasul saw :
Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah
: aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan
kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw . Beliau
ini hidup di masa Imam Syafii

Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin
Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku
lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku
menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku
khatamkan 12.000 kali khatam Alqur an untuk Rasulullah saw, dan
kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw, ia adalah murid
dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia memiliki 70 ribu masalah yg
dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada
313H, beliau ini meriwayatkan lebih dari 5.000 hadits shahih,
seorang Muhaddits besar di masa Imam Ahmad bin Hanbal

Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul
Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku
mengkhatamkan Alqur an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw.
(Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

Al Hafidh : yang sudah hafal lebih dari seratus ribu hadits dg
sanad dan hukum matannya, sedangkan satu hadits yg panjangnya
sebaris itu bisa jadi dua halaman bila dengan sanad dan hukum
matannya, lalu bagaimana dg hafal 100 ribu hadits dg sanad dan
hukum matannya?,

Mereka menghadiahkan hal diatas untuk rasulullah saw, maka maulid
inipun merupakan hadiah untuk Rasulullah saw, berapa ratus juta
pun yg dikeluarkan,

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa
Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa
hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka
berkata : hari ini hari ditenggelamkannya Fir aun dan Allah
menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada
Allah swt, maka bersabda Rasul saw : kita lebih berhak atas Musa
as dari kalian , maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas
anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya,
dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti
sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur an, maka nikmat
apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah
swt SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG
MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA (QS Al Imran
164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul
saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi
(Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam
Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah
ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7
tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah
bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda
syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau
saw sebagai Rahmatan lil aalamiin dan membawa Syariah utk
ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan
tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman
teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg
serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan.
bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai
perayaan maulid dengan nama : Husnulmaqshad fii amalilmaulid .

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam
Nawawi) :
Merupakan Bid ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah
perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw
dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara,
seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan
rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg
kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra Alhafidh Syamsuddin Aljazriy
rahimahullah dalam kitabnya Urif bitta rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya
apa keadaanmu?, ia menjawab : di neraka, tapi aku mendapat
keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan
budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan
karena Tsuwaibah menyusuinya (saw) (shahih Bukhari). maka apabila
Abu Lahab Kafir yg Alqur an turun mengatakannya di neraka mendapat
keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka
bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran
Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha
Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya
dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy
dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dg ucapan Imamul Qurra Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu
menukil hadits Abu Lahab

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al
Halabiyah
berkata tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga,
tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam
di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai
macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah
terhadap mereka keberkahan yg sangat besar .

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ketahuilah salah satu
bid ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi
saw

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yg terkenal al aruus juga beliau
berkata tentang pembacaan maulid, Sesungguhnya membawa
keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud
dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya .

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al
maktab al islami berkata: Maka Allah akan menurukan rahmat Nya
kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar
.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin
Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
dg karangan maulidnya yg bernama Attanwir fi maulid basyir an
nadzir

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah
Aljuzri
dg maulidnya urfu at ta rif bi maulid assyarif

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : maulid ibn katsir

13. Imam Al Hafidh Al Iraqy
dg maulidnya maurid al hana fi maulid assana

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
telah mengarang beberapa maulid : Jaami al astar fi maulid nabi
al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra iq fi maulid khair al khalaiq,
Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy
dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As
syaibaniy yg terkenal dg ibn diba
dg maulidnya addiba i

18. Imam ibn hajar al haitsami
dg maulidnya itmam anni mah alal alam bi maulid syayidi waladu
adam

19. Imam Ibrahim Baajuri
mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala
maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari

21. Al Allamah al Muhaddits Ja far bin Hasan Al barzanji
dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
dg maulid Al yaman wal is ad bi maulid khair al ibad

24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
dg maulid jawahir an nadmu al badi fi maulid as syafi

25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
dg maulid al maulid mustofa adnaani

26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi

27. Syihabuddin Al Halwani
dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
dg maulid Al Kaukab al azhar alal iqdu al jauhar fi maulid nadi
al azhar

29. Asyeikh Ali Attanthowiy
dg maulid nur as shofa fi maulid al mustofa

30. As syeikh Muhammad Al maghribi
dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan
melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan
Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh
kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan
memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas
meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

Mereka bicara Imam Ibn katsir?, Justru Imam Ibn katsir sendiri
mengarang maulid sebagaimana saya cantumkan diatas,

Mengenai fatwa Imam Malik adalah untuk kaum Rawafidh, dari
jabariyah dan Qadariyah, justru Imam malik sangat benci pada
wahabi, mengapa?, karena Imam Malik seorang Muhaddist besar, ia
adalah jauh sebelum Imam Bukhari, ia adalah guru Imam syafii, dan
suatu hari Imam malik kedatangan orang yg menyoalkan masalah Allah
ada di Arsy,
maka Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah
ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : Arrahmaanu alal
Arsyistawa , Imam Malik menjawab : Majhul, Ma qul, Imaan bihi
wajib, wa su al anhu bid ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak
boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya
tentang ini adalah Bid ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang
jahat, keluarkan dia..! ,

demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia
mengatakannya : kulihat engkau ini orang jahat , lalu
mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits
Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yg beliau itu Guru
Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu,
kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak
baik yg mempermasalahkan masalah ini.

Tentunya para wahabi ini bila Imam Malik ada masa kini maka Imam
Malik akan mengusir mereka dari majelisnya.

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a^lam

Forum silahturahmi jama^ah Majelis Rasulullah, klik disini http://
groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494

↓ =ARSIP-nickname=topick=date→importby:carauntuk.com→for-educational-purpose= ↓

sumber
http://arsip.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=5419

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted